Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Malinau Pilkada Serentak 2024

IT Konsultan Terbaik Indonesia

KSP: RI Kendalikan Inflasi Pangan di Tengah Gejolak Harga Global

  • Oleh ANTARA
  • 03 Desember 2022 - 04:00 WIB

BORNEONEWS, Jakarta - Deputi III Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Edy Priyono mengatakan inflasi pangan Indonesia terus berada pada kisaran yang terkendali meskipun terjadi gejolak komoditas strategis tersebut di pasar global.

"Hal yang patut disyukuri adalah inflasi tahunan komponen pangan yang konsisten menurun, dari level tertinggi pada bulan Juli 2022 sebesar 11,47 persen menjadi 5,70 persen bulan lalu,” kata Edy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Hal tersebut, kata Edy, menunjukkan bahwa secara umum harga-harga komoditas pangan relatif terkendali meskipun pemerintah menyesuaikan kebijakan harga energi pada September 2022.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 Desember 2022, Inflasi pangan Indonesia kini tercatat sebesar 5,70 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan negara lain seperti India 7,01 persen, Singapura 7,1 persen, Filipina 9,4 persen, Thailand 9,6 persen, Brazil 11,2 persen dan Afrika Selatan 12 persen.

"Artinya di tengah gejolak harga pangan global, Indonesia relatif mampu mengendalikan inflasi di komponen pangan," kata Edy.

Dia menjelaskan bahwa penurunan inflasi pangan tidak terlepas dari berbagai kebijakan strategis pemerintah seperti pelaksanaan operasi pasar, implementasi Program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) serta optimalisasi penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) dan belanja wajib dua persen Dana Transfer Umum.

Namun, kendati inflasi pangan konsisten menurun, beberapa komoditas pangan seperti beras dan telur ayam, diakui Edy, masih mengalami kenaikan harga. Oleh karena itu, pemerintah akan terus berupaya melakukan stabilisasi harga.

"Meskipun inflasi relatif terkendali, pemerintah terus melakukan pemantauan harga khususnya harga pangan strategis untuk mewujudkan ketersediaan pasokan pangan, yang didukung keseimbangan antara kestabilan harga bagi konsumen serta insentif yang cukup bagi produsen," kata dia.

ANTARA

Berita Terbaru