Tokoh Agama Dukung Penutupan Lokalisasi di Kotawaringin Timur

  • 24 Februari 2016 - 14:27 WIB

Tokoh agama Kabupaten Kotawaringin Timur sepakat dengan langkah pemerintah yang akan menutup semua lokalisasi. Tentu langkah itu harus dibarengi dengan solusi bagaimana penghuni lokalisasi atau pekerja seks komersial (PSK) itu mendapat pembinaan agar mereka bisa mencari pekerjaan yang positif dan benar.

“Kami sangat sepakat jika semua lokalisasi ditutup total. Hal ini berkaitan dengan penyelamatan generasi muda. Jangan sampai moral generasi muda teracuni dengan adanya tempat prostitusi-tempat prostitusi” kata Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kotim, Thamrin Noor, Rabu (24/2/2016).

Menurut Thamrin, pemerintah daerah harus menggandeng semua unsur terkait sebelum penutupan semua lokalisasi di Kabupaten Kotim. Sehingga tidak berdampak negatif atau justru menjadi polemik.

“Hal ini dimaksudkan agar penutupan lokalisasi benar-benar tuntas dan para PSK yang bekerja di sana bisa mengalihkan profesinya kepada hal-hal yang bernilai positif dan tidak dilarang oleh agama,” ujarnya.

Dia menyarankan, pemda harus melakukan pendekatan secara manusiawi yakni membenahi secara moral. Sebab, dia berprinsip, jika kesadaran masing-masing penghuni lokalisasi secara etika dan moral telah pulih, maka akan mudah untuk mengajak yang bersangkutan meninggalkan hal-hal prostitusi.

Dukungan yang sama juga datang dari tokoh pemuda Kotim, Zain Fajeri. Dia sangat sepakat jika semua lokalisasi di daerah yang berjuluk Bumi Habaring Hurung itu ditutup total. Namun sebelum itu, pemerintah jauh-jauh hari sebelum penutupan harus melakukan sosialisasi dan pembinaan keterampilan kepada para PSK yang beroperasi di lokalisasi.

Pemerintah tidak boleh asal main tutup sebelum menyiapkan langkah antisipasi dampak sosial dari penutupan lokalisasi. Karena dikhawatirkan, dampaknya nanti justru lebiih besar. “Misalnya saja, kalau itu ditutup justru para PSKNya keluyuran dan membuka praktek sendiri-sendiri dipinggir jalan. Ini yang harus diantisipasi, jangan sampai dampaknya lebih besar, makanya harus ada solusi terbaik kepada mereka agar tidak kembali menjadi PSK pasca penutupan lokalisasi nanti. Harus diberi keahlian,” ujar Zain.

Jelang keputusan penutupan semua lokalisasi yang masih beroperasi di Kotim, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kotim terus melakukan pendataan untuk memvalidkan data jumlah PSK yang masih aktif di tiga lokalisasi yang masih aktif beroperasi itu. (RAFIUDIN/m)

Aparat Satuan Polisi Pamong Praja Kotim saat membongkar warung remang-remang tempat prostitusi terselubung di Jalan Lingkar Selatan Kotim. Tokoh agama Kotim sepakat dengan  langkah pemerintah yang hendak menutup total semua lokalisasi di Kotim. (BORNEONEWS/RAFIUDIN) 

Berita Terbaru