Dinkes Barito Selatan Antisipasi Serangan Demam Berdarah

  • 08 April 2016 - 13:32 WIB

BORNEONEWS, Buntok - Dinas Kesehatan (Dinkes), Barito Selatan (Barsel) mengantisipasi serangan wabah demam berdarah yang mulai terdeteksi di beberapa wilayah di Barsel.  Ini karena intensitas curah hujan tinggi dan mengakibatkan genangan air di pemukiman warga.

Kepala Dinas Kesehatan Buntok Daryomo Sukiastono mengungkapkan, pihaknya sudah mendapat data  di lapangan dari hasil kadar jentik yang diperiksa oleh kader juru pemantau jentik (Jumantik).

Dari data yang kita dapat kadar jentik sudah mencapai 95% yang harus mulai kita musnahkan agar jangan sampai menjadi nyamuk aedis agepti yang dapat menyebapkan penyakit demam berdarah, kata Daryomo Sukiastono kepada Borneonews, di ruang kerjanya, Jumat (8/4/2016).

Menurutnya, cuaca di musim penghujan seperti sekarang ini dapat memicu percepatan penyebaran virus demam berdarah melalui jentik yang berkembang lewat banyaknya genangan air di pemukiman rumah warga yang padat penduduk.

Jika tidak diantisipasi sedini mungkin, tidak mustahil akan adanya wabah penyakit demam berdarah yang akan bermunculan, jelasnya.

Penanggulangan penyebaran demam berdarah, lanjut dia, tidak cukup hanya dengan pengasapan tapi juga harus melibatkan peran serta masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga kebersihan lingkungannya.

Sejak dini pihaknya sudah memberikan penyuluhan kepada warga dengan membentuk tim pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Tim ini yang bertugas dengan menutup genangan air, membersihkan saluran air dan got, serta penebangan ilalang dan semak belukar yang menjadi sarang nyamuk penyebab demam berdarah.

Tim yang sudah dibentuk inilah yang sudah bergerak untuk mengantisipasi banyaknya sarang nyamuk yang berkembang terlebih di musim penghujan ini, ucapnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data dari November 2015 hingga Maret 2016 tercatat 21 orang warga positif terserang Demam Berdarah Dengue. Namun semuanya bisa ditanggulangi sehingga tidak ada kasus meninggal dunia.

Kasus DBD diwilayah barsel ini masih belum biasa disebut kejadian luar biasa (KLB). Pasalnya semua pasien yang terserang DBD tersebut cepat diatasi dan pulih seperti sedia kala.

Peristiwa DBD yang terjadi di Barsel masih belum bisa dijadikan indikator Kejadian luar biasa. Karena kasusnya masih dalam tahap biasa, ungkapnya. 

Dengan begitu, mari bekerjasama dalam menjaga lingkungan yang bersih dan sehat agar kiranya dapat terhindar dari wabah penyakit demam berdarah. (URIUTU DJAPER/m)

Berita Terbaru