Hakim Falcon

  • 15 April 2016 - 20:52 WIB

TURUTberduka cita atas rusak-hancurnya reputasi penegak hukum yang bernama hakim.Sungguh, mendengar nama anak muda itu disebut dalam keputusan MajelisKehormatan Hakim (MKH) kita ikut menangis. Betapa tidak, anak muda yang bernamaFalcon itu, yang berprofesi sebagai hakim itu, dipecat! 

Dipecat!Karena menerima suap Rp15 juta!  Dalamsidang  Majelis Kehormatan Hakim diJakarta, Falcon yang masih berusia 36 tahun itu menangis, mengiba-iba. Iameratapi putusan majelis yang sangat berat. Di depan anggota majelis ia mengakuhanya sebagai korban atasannya saat ia menangani sebuah perkara di PengadilanNegeri Kasongan, Kalimantan Tengah.  Uangdari terdakwa Rp40 juta, dan sebagai bawahan ia mendapat Rp15 juta.

Sebagaiwarga, kita pantas turut menangis dalam kasus ini. Tetapi menangis bukan karenaFalcon dipecat. Melainkan menangis karena orang yang kita percaya sebagai wakilTuhan di dunia profan  ini doyan suap.Orang yang kita percaya sebagai pengadil, orang yang kita percaya akanmemberikan keadilan atas suatu perkara, ternyata hanyalah menusia pemakan riba!

Yaituriba dari orang-orang berperkara.  Masihmending riba itu dipungut dari orang-orang berharta, orang-orang kaya. Tetapibanyak yang memungut riba dari orang-orang yang sengsara, dari orang-orangmenderita. Dari orang-orang tak berpunya!

MajelisKehormatan Hakim rupanya tak peduli, meski Falcon meratap. Majelis tak pedulimeski Falcon mengatakan dirinya sebagai korban dari atasannya yang bernamaAlfons di Pengadilan Negeri Kasongan beberapa tahun lalu

Kini,Alfons yang menjabat sebagai Wakil Ketua Pengadilan Negeri Sampit, bertubi-tubimembantah. Kepada wartawan Borneonews, Alfons menyangkal telahmengorbankan bawahannya yang bernama Falcon itu.  Alfons berkilah, ucapan Falcon di muka MajelisKehormatan itu, hanyalah sebagai pembelaan agar dirinya mendapat sanksi ringan.

Takseorangpun tahu, siapa yang benar. Falcon atau Alfons. Yang tahu hanyalah HakimYang Maha Pengadil!

Yangpasti, kita meratap dan bersedih. Para hakim yang menjadi soko guru keadilan,terlalu banyak yang lancung.  Ada yangterkena narkoba, korupsi, suap, dan lainnya. Sungguh kita tidak mau moralhakim-hakim kita terlalu buruk. Dan, sungguh kita tidak mau mendengar andamengatakan: ‘Hakim kan hanya manusia biasa!’

Berita Terbaru