Aplikasi Pilkada / Software Pilkada Terbaik Untuk memenangkan Pilkada 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Kalteng Diklaim Stabil dan Kokoh

  • Oleh Testi Priscilla
  • 05 Maret 2024 - 07:20 WIB

BORNEONEWS, Palangka Raya - Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Tengah atau OJK Kalteng menilai kondisi sektor jasa keuangan di Provinsi Kalimantan Tengah stabil dan kokoh pada Februari 2024.

"Sektor jasa keuangan Kalteng stabil dan kokoh dilihat dari sisi permodalan yang kuat, dana pihak ketiga yang memadai dan nilai risiko kredit bermasalah yang terjaga," kata Kepala OJK Provinsi Kalteng, Otto Fitriandy menyampaikan perkembangan ekonomi Kalteng pada Selasa, 5 Maret 2024.

Dalam rangka mewujudkan perekonomian yang berkelanjutan di Provinsi Kalimantan Tengah, lanjut Otto, OJK juga senantiasa melindungi konsumen dengan aktif melaksanakan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

"Edukasi dan sosialisasi kita laksanakan bekerjasama dengan stakeholders, Lembaga Jasa Keuangan dan Komunitas Literasi dan Inklusi Keuangan atau LINK Kalteng, untuk mendorong peningkatan indeks literasi dan inklusi di Provinsi Kalimantan Tengah," tutur Otto lagi.

Sementara itu di tingkat pusat juga telah dilaksanakan siaran pers penyampaian hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan pada 28 Februari 2024 menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga, didukung oleh permodalan yang kuat dengan likuiditas  stabil, dan profil risiko yang positif. 

"OJK menilai saat ini kinerja perekonomian global secara umum membaik, dengan tekanan yang cenderung stabil meskipun masih perlu dicermati perkembangan geopolitik global ke depan," kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar secara daring.

Di Amerika Serikat, lanjutnya, capaian inflasi yang cenderung sticky di tengah pertumbuhan ekonomi yang solid, mendorong meningkatnya perkiraan no landing, sesuai pra-pandemi. Dengan perkembangan tersebut, pasar kembali melakukan kalibrasi atas kemungkinan mundurnya pemangkasan Fed Fund Rate atau FFR dengan besaran yang juga berkurang. 

Sementara itu, di Eropa, lanjut Mahendra ekonomi Jerman dan Inggris mengalami kontraksi dan mulai memasuki resesi. Inflasi cenderung turun mendekati target bank sentral sehingga mendorong Bank of England (BoE) dan European Central Bank (ECB) menjadi less hawkish dan membuka peluang untuk penurunan suku bunga yang lebih cepat. 

"Di Tiongkok, perkembangan terkini menunjukkan perekonomian berada di bawah rata-rata historis. Tekanan di pasar keuangan juga terpantau meningkat. Ke depan, ketidakpastian atas pemulihan ekonomi Tiongkok diprediksi cukup tinggi di tengah menguatnya kembali potensi terjadinya perang dagang," katanya lagi. (TESTI PRISCILLA/j)

Berita Terbaru