Sekilas Tentang Festival Babukung Lamandau

  • Oleh Hendi Nurfalah
  • 29 Oktober 2016 - 17:24 WIB

BORNEONEWS, Lamandau -  Sekilas tentang Festival Babukung, yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Lamandau untuk ketiga kalinya. Festival Babukung 2016 dibuka oleh Bupati Lamandau, Marukan, di Nanga Bulik, Jumat (28/10/2016).

Kepada Borneonews, Sabtu (29/10/2016), Mas Jayang Mangku Rakyat H. Tommy Hermal Ibrahim, yang juga Ketua DPRD Lamandau mengungkapkan, sejarah Festival Babukung tersebut. Berikut uraiannya:

Topeng telah ada di dunia sejak zaman prasejarah yang secara luas digunakan dalam tari yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur.

Selain itu, topeng berkaitan erat dengan roh-roh leluhur yang dianggap sebagai interpretasi dewa-dewa. Pada beberapa suku, topeng masih menghiasi berbagai kegiatan seni dan adat sehari-hari.

Secara khusus di kawasan Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, khususnya untuk suku Dayak Tomun beragama kaharingan dikenal sebuah ritual adat yang menampilkan tarian topeng, disebut dengan Babukung.

Saat dibincangi Borneonews, Tommy menceritakan Tari Babukung dilakukan oleh masyarakat sebagai bagian dari ritual kematian. Mereka menari  menggunakan berbagai macam topeng dengan karakter hewan tertentu, topeng ini disebut Luha' sedangkan para penari disebut Bukung.

Bukung-bukung ini datang dari desa tetangga atau kelompok masyarakat dengan tujuan menghibur keluarga duka sembari menyerahkan bantuan.

Namun belakangan ini, sebutnya, Babubung semakin ditinggalkan, persepsi mengenai Babukung menjadi sangat lokal dan spesifik kepada kelompok masyarakat tertentu.

"Hal ini tentunya dinilai bertolak belakang dengan pesan moral yang terkandung dalam pelaksanaan Babukung dimana kebersamaan, gotong royong, saling bantu membantu adalah tanggung jawab komunal," katanya.

Tommy juga menceritakan, berdasarkan hasil musyawarah adat yang digelar DAD Lamandau beberapa tahun silam dipimpin Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Lamandau, Mas Labihi Patih Kunci Marukan, berkesimpulan berdasarkan pada patokan potensi seni budaya, Budaya Babukung ini dinilai dapat dikembangkan dalam ruang lingkup lebih luas. Terutama dalam rangka transpormasi nilai nilai religius yang akan memberikan pencerahan perilaku ke arah yang lebih baik.

Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya menggali, memperkenalkan dan menumbuhkembangkan kembali Babukung dalam ruang lingkup lebih luas, bukan hanya sebagai seni budaya namun juga sebagai aset pariwisata yang turut membangun karakter bangsa. Hal inilah yang menjadi dasar diadakannya Festival Babukung Lamandau 2016.

"Artinya, Festival Babukung yang tiga tahun ini digelar rutin bukan ritual kematian yang bersifat tradisi atau ritual keyakinan dari kepercayaan tertentu, tetapi murni mengangkat sisi seni dan budaya. Baik seni ukir, seni tari, seni pakaian dan yang lainnya," terangnya.

Jumlah Bukung yang dilombakan dalam festival kali ini meliputi 12 jenis atau kategori Bukung, di antaranya :

1.Bukung Buaya

2.Bukung Tingang

3.Bukung Naga

4.Bukung Rusa

5.Bukung Udang/Hundang

6.Bukung Sadap/Belanda

7.Bukung Kudu/Anjing

8.Bukung Lelawar

9.Bukung Kompadi

10.Bukung Bakaka/Bayan/Betet

11.Bukung Hantu/Pangua

12.Bukung Bamba. (HENDI NURFALAH/N).

Berita Terbaru