Ini Beda Program Biodiesel Indonesia dengan Malaysia

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 03 Mei 2017 - 12:30 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Program biodiesel Indonesia patut diacungi jempol karena sukses diterapkan tanpa ada penentangan dari pihak terkait, terutama dari sektor transportasi dan pabrikan kendaraan bermotor.

Itulah mengapa program biodiesel Indonesia yang kini sudah memasuki B20 dan akan ditingkatkan lagi menjadi B30 pada 2020 mendatang, mulus meluncur tanpa halangan. Berbeda dengan program biodiesel Malaysia yang masih B10 dan belum juga diterapkan sebagai mandatori hingga saat ini karena ditentang banyak pihak.

Selain didukung dengan data ilmiah yang menyatakan biodiesel aman bagi mesin, sejumlah pengujian juga terus dilakukan oleh pemerintah dan juga sektor industri, kata Direktur Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (APROBI) Paulus Tjakrawan, yang dikutip The Malaysian Reserve, Selasa (2/5/2017).

Berdasarkan serangkaian uji coba, kata Paulus, mesin diesel yang menggunakan biodiesel B20 mampu beroperasi hingga lebih dari 100.000 km tanpa mengalami masalah atau kerusakan.

Kami telah melakukan serangkaian uji coba di semua kondisi cuaca. Pabrikan mobil seperti Toyota, Mitsubishi dan Chevrolet justru memberikan mesin diesel untuk dilakukan pengujian biofuel, imbuhnya.

Perbedaaan lain yang membuat program biodiesel di Indonesia sukses adalah kebijakan pabrikan mobil yang memutuskan bahwa biodiesel tidak mengubah atau menghanguskan garansi. Di Malaysia, sejauh ini pemerintah setempat belum juga berhasil membujuk pabrikan mobil seperti BMW dan Toyota untuk memperpanjang masa garansi bagi mobil yang menggunakan B10.

Saat ini di Indonesia tercatat lebih dari 5 juta mobil diesel. Dengan program B20 diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Indonesia juga tengah menyiapkan kebijakan untuk memangkas bea masuk bahan bakar impor, seraya mengurangi subsidi bahan bakar kepada masyarakat.

Paulus mengatakan Indonesia juga mengekspor methyl ester sawit ke sejumlah negara, seperti Australia, Amerika Serikat, Jepang, Taiwan dan Korea Selatan.

Selain itu, langkah besar lain yang dilakukan Indonesia adalah mempromosikan pemakaian biodiesel dengan harga jauh lebih murah ketimbang bahan bakar diesel biasa.

Harga diesel biasa berharga 30% lebih tinggi dibandingkan biodiesel, dan ini jelas tak cocok untuk sektor transportasi, khususnya angkutan truk dan perusahaan tranportasi, kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truck Indonesia (Apterindo) Gemilang Tarigan. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru