Aprobi: Buka Pasar Baru Untuk Biofuel Sawit Tak Mudah

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 01 Maret 2018 - 16:00 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyatakan pasar baru untuk ekspor biodiesel tidak mudah dan membutuhkan waktu untuk merintisnya karena dibutuhkan dukungan dari Kementerian Energi dan Lingkungan Hidup, serta persetujuan dari pabrik otomotif negara yang dituju.

"Kami sedang berusaha membuka pasar baru untuk biodiesel. Untuk itu, semua kemungkinan negara dijajaki," kata Ketua Harian Aprobi, Paulus Tjakrawan, kepada pers di Jakarta, Kamis (1/3/2018).

Saat ini, menurut Paulus, pihaknya tengah berada di Brussels, Belgia, untuk membuka kembali pasar Uni Eropa (UE) untuk ekspor biodiesel, setelah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) awal tahun ini memenangkan Indonesia dan mencabut pengenaan bea masuk antidumping yang dilakukan UE. Untuk itu Aprobi melakukan langkah-langkah dalam upaya membuka pasar tersebut.

"Ekspor biodiesel ke AS sudah dihentikan sejak negara Adidaya itu memutuskan mengenakan BMAD saat penyelidikan awal sebesar 50,71% pada 19 Oktober 2017 untuk seluruh eksportir biodiesel Indonesia, seperti Wilmar Trading PTE. Ltd. dan PT Musim Mas," papar dia.

Tekanan AS tidak sampai di situ. Pada 21 Februari 2018, US Department of Commerce (USDOC), institusi yang menentukan perhitungan besaran dumping AS, menetapkan BMAD akhir bagi eksportir Tanah Air meningkat menjadi 92,52%. Sementara itu, khusus PT Musim Mas, besaran yang ditetapkan meroket hingga 276,65%. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru