Ini Arti Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu

  • Oleh Achmad Syihabuddin
  • 14 Desember 2017 - 21:32 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Sebagian dari anda mungkin belum tahu arti ritual adat Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu. Kegiatan yang merupakan ritual adat Hindu Kaharingan itu, dikemas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kotim lebih menarik, dan dijadikan agenda wisata budaya tahunan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kotim, Fajrurrahman membeberkan arti dari ritual adat agama Hindu Kaharingan itu.

"Kebanyakan orang hanya tahu kegiatan ini adalah agenda rutin pemkab saja. Padahal kegiatan ini ada aeti nya," ucap Fajrur.

Menurut Fajrur, arti dari Mampakanan Sahur adalah kelompok roh gaib yang mempunyai kekuatan dan kemampuan supranatural. Merupakan manifestasi dari kekuasaan Ranying Hattala Langit (Tuhan Yang Maha Esa) yang disebut Tumbang Sahur Bagarantung Langit Tundun Parapah Baratupang Hawun (Sahur Parapah). Artinya, kelompok ini ada di langit, di bumi dan di bawah bumi atau air.

Dari sejumlah kekuatan itu masingmasing mempunyai nama di antaranya "Sahuwung Bulau" yang tinggal di langit, "Jata Kalang Labehu" dan "Naga Galang Petak" yang tingggal di air, serta "Temanggung Tungku Watu" dan "Kameloh Nyaring Bawin Kalasi" yang tinggal di bumi.

Sementara itu, Mamapas Lewu merupakan manifestasi tatanan kehidupan masyarakat Dayak dalam berinteraksi dengan komunitas sesama, yang merupakan gambaran kehidupan Suku Dayak dalam menjalin persatuan dan kesatuan (Falsafah Rumah Betang).

"Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan alam dan lingkungan hidup (Petak Danum) beserta segala isinya dari berbagai sengketa, marabahaya, sial wabah penyakit (Rutas Pali) dan sebagainya dari Kotim," terangnya.

Dirinya juga mengatakan wisata budaya dengan memperlihatkan budaya lokal sangat diminati wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Hal tersebut dikarenakan adanya sesuatu yang unik dan berbeda di setiap adat istiadat di Indonesia, salah satunya suku Dayak di Kalimantan. (ACHMAD SYIHABUDDIN/B-11)

Berita Terbaru