Jumat, 22 September 2017
 

 
 

Pengrajin

Mengais Rezeki dengan Bilah Bambu

 
 
Peralatan sederhana inilah yang digunakan nenek Jumiati dalam mengolah batangan bambu menjadi bilah tusuk sate.

Peralatan sederhana inilah yang digunakan nenek Jumiati dalam mengolah batangan bambu menjadi bilah tusuk sate.

Borneonews / Koko Sulistyo


BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Di beranda rumah yang sederhana, Jumiati (55) asyik membelah bambu menjadi bilah-bilah kecil berukuran sekitar 20 centimeter. Sejurus kemudian, ia melancipkan ujungnya menjadi bilah tusuk sate yang masih kasar.

Kemudian, warga RT 25, Jalan A Yani, Gang Lele, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat itu menghaluskan bilah-bilah tusuk sate kasar menggunakan alat sederhana.

Alat itu dibuat menggunakkan besi berbentuk bulat kecil berdiameter sekira 2,5 centimeter yang berlubang seukuran tusuk sate. Ujung bulatan besi kecil ditajamkan sehingga berfungsi sebagai mata pisau yang berfungsi menghaluskan tusuk sate, sementara proses lainnya dikerjakan secara manual.

Nenek Jumiati menceritakan, profesi membuat tusuk sate sudah dilakoninya sejak satu dasawarsa ini. Dalam sebulan ia berpenghasilan antara Rp1 juta hingga Rp1,2 juta dari hasil membuat tusuk sate.

Dalam memasarkan produk tusuk satenya, nenek Jumiati tidak perlu bersusah payah. Ia mempunyai pelanggan tetap yang setia mendatangi kediaman nenek Jumiati untuk mengambil orderannya.

Sementara ini, tusuk sate buatannya baru tersebar di Kota Pangkalan Bun dan sekitarnya. "Para pelanggan yang ambil sendiri tusuk satenya untuk seribu bilah tusuk sate harganya Rp12 ribu," kata Jumiati.

Melakoni profesinya nenek Jumiati tidak sendiri, anak-anaknya juga turut membantunya dalam memenuhi pesanan tusuk sate. Sejak pagi hingga sore hari aktivitas pembuatan tusuk sate menghiasi rumah sederhana itu.

Walau begitu, dalam mengembangkan usahanya nenek Jumiati terkendala dalam pengadaan bahan baku bambu dan modal. Menurutnya saat ini ia mengupah orang untuk mencari bambu. "Dulu masih mudah kalau saat ini sulit mencarinya, terpaksa kami mengupah orang untuk mencari bambu," imbuhnya.

Nenek Jumiati berharap, pemerintah dapat membantu permodalan untuk meningkatkan usahanya. Apalagi di usianya yang sudah tidak muda lagi ia masih menggunakan peralatan manual yang sederhana. (KOKO SULISTYO/B-2)


BERITA POPULER

Pembakaran Sekolah

Tenaga Kontrak

Pegawai Negeri Sipil

Tahun Baru Islam

Pilkades Serentak 2017

Facebook

 
UCAPAN SELAMAT LAINNYA
To Top