Kerukan Hantipan di Katingan mulai Surut

  • Oleh Abdul Gofur
  • 13 Juli 2019 - 19:50 WIB

BORNEONEWS, Kasongan - Meski masih tahap awal, kemarau yang melanda Kecamatan Katingan Kuala dan Mendawai, Kabupaten Katingan, telah menyebabkan Kerukan Hantipan mulai surut.

Padahal, Kerukan Hantipan menjadi jalur transportasi air warga di dua kecamatan tersebut bila hendak bepergian ke Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Menurut warga, Sabtu, 13 Juli 2019, air Kerukan Hantipan mulai surut sejak sepekan terakhir.

Saat ini, kelotok penumpang dari Katingan Kuala dan Mendawai yang hendak ke Sampit hanya bisa berlayar hingga ke pertengahan Kerukan Hantipan.

Pasalnya, air kerukan semakin dangkal. Untuk melanjutkan perjalanan warga harus menggunakan jasa ces atau kelotok yang ukurannya lebih kecil. Selanjutnya diganti lagi dengan kelotok ukuran besar setelah melewati kerukan dangkal.

"Setelah Kerukan Hantipan surut, sekarang biaya transportasi dari Pegatan, Kecamatan Katingan Kuala atau dari Mendawai, Kecamatan Mendawai, menuju Sampit atau ke Kasongan maupun sebaliknya berlipat ganda bila dibandingkan dengan sebelumnya," ujar Bayu, warga Desa Jaya Makmur, Kecamatan Katingan Kuala.

Dani, warga Mendawai, Kecamatan Mendawai, menyebutkan bahwa kini warga di Katingan Kuala dan Mendawai semakin terisolasi. 

Pasalnya, belum ada jalan darat yang menghubungkan dua wilayah kecamatan ini dengan wilayah perkotaan. Transportasi andalan warga selama ini yaitu melalui jalur Sungai Katingan, Laut Jawa, dan Kerukan Hantipan.

Sementara itu, jalur yang sebelumnya dibuka rute Pegatan - Sampit, sudah tidak lagi beroperasi sejak beberapa tahun terakhir. Salah satu penyebabnya, sejumlah speed boat penumpang sempat karam di jalur tersebut.

Praktis, warga dua Kecamatan Kuala dan Mendawai mengandalkan Kerukan Hantipan. Namun, belakangan seiring musim kemarau, air kerukan dangkal dan kelotok penumpang tidak bisa langsung melintas. Sehingga terpaksa berganti kelotok yang lebih kecil.

Berita Terbaru