Biodiesel B100 Siap Digunakan Untuk Gerakkan Kereta Api

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 02 Oktober 2019 - 06:06 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Kereta Api Indonesia (KAI) menggandeng Servo Railway dan Progress Rail, perusahaan infrastruktur rel kereta, untuk merancang lokomotif berbahan bakar biodiesel 100 persen atau B100.

Kerja sama itu dicanangkan sebagai tindak lanjut rencana pemerintah dalam meningkatkan penggunaan minyak sawit pada moda transportasi di dalam negeri, khususnya kereta api.

"Kita melihat arahan Presiden, kita mengarah ke B100 karena kita penghasil kelapa sawit yang luar biasa. Kami mendahului untuk melakukan MoU atau mencoba rekayasa engineering atas aset yang ada untuk B100," kata Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, awal pekan ini.

Nota kesepakatan (MoU) tersebut dilakukan bersamaan dengan agenda peringatan ulang tahun KAI ke-74 di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (28/9).

Edi Sukmoro mengatakan sejauh ini armada operasional milik KAI telah menggunakan biodiesel 20 persen (B20). Sedangkan berdasarkan ujicoba, pemakaian biodiesel sudah naik ke level 30 persen (B30). Secara berjenjang, aset tersebut akan dikembangkan untuk dapat mengonsumsi hingga B100.

"Sekarang kan sudah B20, nanti diantisipasi akan ke B30, B40, B50, sampai B100. Armada kita 200 lebih, pembangkit kita itu kereta yang bangkitin AC (air conditioner) dan penerangan hanya sampai B30, makanya kita harus melakukan rekayasa teknologi untuk makan B100," tutur Edi.

Di saat bersamaan, Pendiri Servo Railway, Widhi Hartono, menjelaskan pada tahap awal kerja sama akan dimulai dengan kajian kelayakan (feasibility study) pada aspek teknis dan keekonomian.

Dalam tahapan ini, KAI dan Servo menggandeng Progress Rail, perusahaan infrastruktur rel kereta, anak usaha Caterpillar asal Amerika Serikat.

"Ide ini diinisiasi oleh Dirut KAI. Peran Servo Railway dan Progress Rail mendukung program pemerintah untuk pengembangan B100 di lokomotif," ujar Widhi.

Targetnya, tahap kajian akan memakan waktu hingga satu tahun mendatang. Bila hasilnya memuaskan, kerja sama bakal naik ke level pengadaan lokomotif.

"Dimulai dengan penelitian kemudian jika feasible, maka akan dilakukan pengembangan dan pengadaan. Target waktu penelitian satu tahun. Untuk pengembangan dan pengadaan akan ditentukan kemudian tergantung hasil penelitian," sambung Widhi.

Berita Terbaru