Persoalan Rotan Masih Jadi Keluhan Masyarakat Kotim

  • Oleh Naco
  • 10 November 2019 - 13:56 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Selama masa reses ini Anggota DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Muhammad Arsyad dari daerah pemilihan IV mayoritas banyak dapat masukan mengenai harga komoditas rotan yang tidak pernah membaik.

Menurutnya masyarakat meminta ada langkah memperjuangkan nasib para petani hingga kepada pemerintah di tingkat pusat.

“Salah satu dari sekian aspirasi masyarakat yang saya terima terkait harapan kepada wakil rakyat agar bersama pemerintah daerah bisa memperjuangkan nasib petani rotan," katanya, Minggu 10 November 2019.

Diakui, sejak terbitnya Permendag No 35 Tahun 2011 tentang Ketentuan Ekspor Rotan dan Produk Rotan, sampai saat ini nasib petani seperti anak tiri di negeri ini.

Betapa tidak, aturan pemerintah yang seharusnya melindungi nasib rakyat, khususnya petani rotan namun justru malah sebaliknya.

Menurutnya Permendag ini hanya memberikan keuntungan sepihak kepada pengusaha di Pulau Jawa, namun membunuh masa depan petani rotan di luar Pulau Jawa, khususnya Kalimantan.

Dalam kunjungan kerja kaji banding ke Komisi II DPRD Kalteng, mereka sudah melemparkan gagasan bagaimana jika DPRD Kalteng melalui komisi yang membidangi masalah perkebunan dan pertanian untuk berinisiatif mengambil langkah.

“Memang sudah ada upaya dari kawan anggota dewan periode sebelumnya yang berjuang sampai ke pusat untuk membuka mata pemerintah terhadap nasib petani rotan di Kalteng, khususnya di Kotim," tukasnya.

Sayangnya ujar Arsyad perjuangan itu hanya bertepuk sebelah tangan. Hingga kini tak ada solusinya.

Namum dia mengusulkan agar DPRD Kalteng dan beberapa DPRD kabupaten yang daerahnya merupakan sentra penghasil rotan mentah bisa bersinergi untuk bersama sama berjuang ke pusat.

"Syukur-syukur perjuangan itu bisa didukung penuh oleh bupati dan Gubenur Kalteng dan di-backup oleh wakil kita di Senayan," pungkasnya. (NACO/B-6)

Berita Terbaru