Tradisi Mapakanan Sahur dan Mamapas Lewu Jadi Daya Tarik Wisatawan di Kotawaringin Timus 

  • Oleh Muhammad Hamim
  • 12 November 2019 - 13:44 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Tradisi mapakanan sahur dan mamapas lewu yang merupakan ritual adat warisan leluhur Hindu Keharingan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengandung nilai-nilai budaya yang menarik sebagai daya tarik wisatawan. 

Pemerintah daerah menaruh perhatian besar terhadap acara ini. Sehingga sejak 2003, prosesi ini sebagai salah satu kegiatan ritual yang dijadikan ivent resmi pariwisata di Kotim. 

Hal itu dilakukan sebagai upaya agar nilai-nilai luhur penuh makna tersebut akan semakin memberi makna mendalam bagi segenap warga di bumi Habaring Hurung ini. 

"Tradisi ini tidak bisa ditinggalkan, dan harus dilestarikan dengan dikaitkan langsung dengan ivent pariwisata di daerah ini," ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Kotim Halikinnor, saat membuka kegiatan tersebut, Selasa, 12 November 2019. 

Upacara tersebut juga tidak hanya bisa dirasakan dimensi religinya, namun juga mengandung unsur unik dan menarik bagi wisatawan. Yang sekaligus akan menjadi integral dari nilai-nilai yang memperkaya khazanah budaya di Kotim ini. 

"Oleh karena ini kami pemerintah daerah memfasilitasi pelaksanaan upacara ritual adat ini. Dan tentunya sudah ditetapkan sebagai ivent resmi agenda tahunan pariwisata Kotim," kata Halikinnor. 

Sementara, tokoh adat Hindu Keharingan Witersius Natali mendukung tradisi tersebut dijadikan ivent pariwisata Kotim. Asalkan tidak menghilangkan esensi upacara adatnya. 

"Yang terpenting tidak menghilangkan upacara adatnya, karena ini merupakan warisan budaya leluhur," terang Witersius. 

Tradisi tersebut juga memberikan makna sebagai pemersatu suku dan agama di Kotim ini. Karena akan menjadi tontonan masyarakat di daerah ini hingga mengumpulkan orang banyak. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)

Berita Terbaru