Startup Workmate Raih Pendanaan Rp73 Miliar dari Investor

  • Oleh ANTARA
  • 17 November 2019 - 17:30 WIB

Jakarta (ANTARA) - Perusahaan rintisan bidang ketenagakerjaan, Workmate meraih pendanaan Rp73 miliar (5,2 juta dolar AS) dari sejumlah investor yang berpartisipasi dalam putaran pendanaan Seri A.

Workmate yang total mendapatkan pendanaan Rp140 miliar sejak didirikan pada 2016 itu akan menggunakan pendanaan terbarunya untuk investasi dalam penjualan, memperbesar tim teknologi dan memperluas bisnis ke kota-kota baru.

Pengelola platform penyedia tenaga kerja informal ini mendapatkan pendanaan Rp73 miliar dari kelompok investor yang dipimpin Atlas Ventures dan diikuti Gobi Partners serta Beacon Venture Capital (Kasikorn Bank), dan investor-investor pada ronde sebelumnya.

Di Asia Tenggara, sektor tenaga kerja informal menyumbang lebih dari 50 persen dari total tenaga kerja, dengan total upah senilai Rp2.800 triliun (USD 200 miliar) setiap tahunnya.

Pada tahun 2025, pasar rekrutmen tenaga kerja informal di wilayah ini diprediksi akan meningkat dua kali lipat, menjadi Rp112 triliun rupiah (USD 8 miliar). Namun, dibalik potensi besar ini, metode pencarian tenaga kerja di Asia Tenggara masih berkutat pada cara tradisional - seperti sosialisasi mulut-ke-mulut.

CEO dan Co-founder Workmate, Mathew Ward, memiliki misi untuk mengubah sektor pencarian tenaga kerja informal. "Ketika agen tenaga kerja masih melakukan cara manual, kami telah membangun sistem otomatis -- dimana perusahaan bisa langsung menghubungi calon karyawan, tanpa harus melalui jasa agen yang biasa menetapkan tarif perantara hingga 30 persen."

"Model bisnis yang kami tawarkan juga sedang berkembang pesat di pasar internasional, bahkan Uber baru mengumumkan mereka telah meluncurkan Uber Works sebagai solusi perekrutan tenaga kerja di AS," jelas Mathew dalam siaran pers, Minggu.

Seperti Uber Works di AS, Workmate bertujuan untuk memecahkan masalah yang serupa di negara-negara berkembang seperti di Asia Tenggara. Saat ini, terdapat semakin banyak lowongan pekerjaan informal khususnya di bidang jasa.

Namun, layanan teknologi yang ada masih terlalu berfokus pada tenaga kerja formal (pekerja kerah putih). Workmate melihat peluang yang jauh lebih besar di pasar informal sebagai sektor yang memiliki jumlah tenaga kerja lebih besar dari sektor formal.

Semua pekerja di Workmate telah disaring terlebih dahulu, untuk memastikan hanya pekerja berkualitas yang tersedia di platform. Kemudian, perusahaan bisa melakukan pencarian staf melalui platform, dan Workmate akan langsung mencocokkan perusahaan dengan pekerja di lokasi terdekat yang memenuhi syarat dan ketentuan.

Berita Terbaru