Ini 5 Fakta Kasus Maria Pauline Lumowa Selama Buron 17 Tahun

  • Oleh Teras.id
  • 10 Juli 2020 - 08:31 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Nasib pelarian Maria Pauline Lumowa atau karib disapa Maria Luomwa berhenti di Serbia. Tersangka pembobolan BNI itu dibekuk setelah 17 tahun menjadi buron atas perkara skandal Letter of Credit (L/C) fiktif yang membuat perseroan pelat merah ini tekor Rp 1,7 triliun.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly mengatakan penangkapan Maria dilakukan menggunakan cara ekstradisi.

“Pemerintah Serbia committed. Saya bertemu dengan Menteri Kehakiman, Perdana Menteri, dan puncaknya pertemuan dengan Presiden Serbia,” kata Yasonna saat menjelaskan proses penangkapan Maria, Kamis, 9 Juli 2020.

Majalah Tempo edisi 8 Desember 2003 menulis, Maria yang berkewarganegaraan Belanda ini lincah menggangsir bank. Dia yang disebut-sebut sebagai pelaku utama malah acap mengaku tak berdosa. Dihimpun dari arsip lawas, berikut ini sejumlah fakta kasus yang menjerat Maria.

1. Kabur ke Singapura Kasus Maria terjadi pada 2002-2003.

Saat itu BNI memberikan kredit senilai Rp 1,7 triliun kepada PT Gramarindo Group yang dimiliki Maria Pauline Lumowa dan Adrian Waworuntu. Maria diduga beraksi tak sendiri karena BNI menyetujui pencairan kredit tersebut.

Maria menerima sejumlah 41 slip Letter of Credit melalui anak-anak perusahaannya. BNI kemudian mengetahui ada sesuatu yang bermasalah pada Juni 2003.

Perusahaan pelat merah itu menemukan PT Gramarindo Group tidak pernah melakukan aksi korporasi dari kredit yang diberikan.

Maria yang disinyalir menggangsir bank pemerintah dan melakukan kejahatan penggelapan pajak pun menyembunyikan diri. Pada 2003, ia kabur ke Singapura sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka. Dia kemudian tinggal di Belanda.

2. Upaya menyetip dosa

Dalam wawancara bersama wartawan Lativi kala itu di Singapura, Maria mengakui bahwa dirinya dituduh dalang. Dia juga menyatakan kasus ini bukan kriminalitas, tapi sekadar kredit macet.

Malah ia saat itu menyebut telah menyiapkan duit untuk membayarnya. Kepada Tempo beberapa waktu kemudian, ia menyatakan kondisi ini telah diatur BNI.

Berita Terbaru