Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Manokwari Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Februari 2021, Inflasi Kalimantan Tengah Tetap Terkendali

  • Oleh Testi Priscilla
  • 26 Maret 2021 - 06:00 WIB

BORNEONEWS, Palangka Raya - Indeks Harga Konsumen atau IHK Kalimantan Tengah pada Februari 2021 mengalami inflasi sebesar 0,2 I % (mtm), lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya sebesar 0,09% (mtm).

"Capaian tersebut juga lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi nasional sebesar 0, 10% (mtm)," kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah, Yudo Herlambang pada Kamis, 25 Maret 2021.

Yudo menyampaikan kondisi keuangan dan perekonomian Kalteng ini dalam Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Kalimantan Tengah dengan tema Strategi Fiskal dalam Percepatan Pemulihan Ekonomi Daerah yang dilaksanakan secara virtual pada Kamis, 25 Maret 2021.

Secara tahunan, lanjut Yudo, inflasi IHK Provinsi Kalimantan Tengah tercatat sebesar 0,67% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi tahunan secara historic 3 tahun terakhir pada periode yang sama, yakni sebesar 2,32% (Not).

"Secara spasial, kota IHK di Provinsi Kalimantan Tengah yaitu Kota Palangka Raya mengalami inflasi sebesar 0,33% (mtm) atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0,09% (mtm)," terangnya.

Sementara Kota Sampit, kata Yudo, mengalami deflasi 0,02% (mtm), berbeda dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,09% (mtm).

"Perkembangan inflasi Kalimantan Tengah pada Februari 2021 utamanya dipengaruhi oleh kenaikan inflasi Administered Prices (AP) di tengah tekanan inflasi Volatile food (VF) dan inflasi inti yang sedikit melambat," tuturnya.

Perkembangan inflasi VF, katanya lagi, utamanya didorong oleh inflasi komoditas daging ayam ras seiring meningkatnya harga pakan ayam akibat kenaikan biaya distribusi dari Kalimantan Selatan. Inflasi inti tercatat rendah terutama dipengaruhi oleh deflasi komoditas emas perhiasan sejalan dengan perlambatan harga emas dunia. Sementara perkembangan inflasi AP dipengaruhi oleh meningkatnya inflasi bahan bakar rumah tangga disebabkan oleh pasokan komoditas LPG 3 Kg yang terbatas.

"Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, guna menjaga inflasi sesuai kisaran targetnya. Koordinasi kebijakan tersebut terutama ditujukan untuk menjaga kecukupan pasokan bahan pangan strategis dan mengantisipasi risiko inflasi pangan, dari kemungkinan adanya gangguan produksi dan distribusi di tengah masih tingginya curah hujan karena fenomena La Nina dan menjaga ketersediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam rangka program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KSPH).

Di samping itu, sinergi Bank Indonesia dan Pemerintah Daerah akan terus difokuskan untuk mendorong peningkatan daya beli masyarakat selama berlangsungnya pandemi COVID-19 sebagai bagian dari upaya mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)," papar Yudo. (TESTI PRISCILLA/B-5)

Berita Terbaru