Aplikasi Pilwali (Pemilihan Walikota) Kota Bandar Lampung Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Perusahaan Pembiayaan Gelontorkan Rp 200 Triliun untuk Restrukturisasi Kredit

  • Oleh Testi Priscilla
  • 14 Oktober 2021 - 19:35 WIB

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang nyata pada semua sektor industri termasuk industri pembiayaan. Meski menghadapi tekanan pandemi, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia atau APPI mengaku bangga dengan industri pembiayaan.

Pasalnya walaupun tengah berjuang menghadapi situasi yang sulit, perusahaan pembiayaan tetap memberikan bantuan kepada para debiturnya yang saat ini berjumlah sekitar 23 juta debitur.

"Hampir 2 tahun kita berjuang bersama karena situasinya sangat beda situasinya sangat sulit bagi kita semua. Pandemi Covid-19 benar-benar menghantam banyak industri dan bahkan banyak nasabah kita perlu dibantu," ujar Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno dalam sambutannya pada acara Indonesia Best Multifinance Awards yang digagas Wartaekonomi.co.id secara virtual di Jakarta.

Dia menyebutkan, salah satu bantuan yang diberikan ialah program restrukturisasi kredit yang dicanangkan OJK melalui POJK No.14/POJK.05/ 2020 tentang Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 bagi Lembaga Jasa Keuangan Nonbank. Menurutnya, lewat kebijakan ini, banyak debitur yang mengalami kesulitan akibat pandemi merasa terbantu dengan adanya relaksasi cicilan kredit.

"Perusahaan pembiayaan telah lakukan restrukturisasi besar-besaran dimana hingga 13 September 2021 kurang lebih 5,7 juta debitur telah mengajukan restrukturisasi kredit dan 5,2 juta debitur yang disetujui restruk. Untuk jumlahnya sangat signifikan sekitar lebih dari Rp200 triliun, namun dari data yang kami terima sebanyak 65-70% sudah kembali membayar dengan normal dan tidak perlu direscheduling," jelas Suwandi.

Lebih lanjut, katanya, hal ini menunjukkan bagaimana perusahaan pembiayaan telah mbantu para debitur yang mengalami kesulitan-kesulitan di masa pandemi.

"Apa yang telah dilakukan perusahaan pembiayaan dalam membantu para debiturnya kita bisa sama-sama tumbuh, karena debitur perlu perusahaan pembiayaan dan kami pun memerlukan debitur yang baik untuk menjadi partner kami," ucapnya.

Tidak hanya itu, Suwandi menambahkan, kebijakan restrukturisasi kredit ini juga memberikan dampak positif pada kinerja perusahaan pembiayaan.

"Dengan restrukturisasi ini membuat perusahaan pembiayaan lebih baik dari kualitas aset sehingga pertumbuhan laba di Juni 2021 sekitar 131% (yoy). dan Proyeksi dari APPI sampai akhir tahun 2021 kita masih minus tapi semakin kecil sekitar minus 1-3%," sebut Suwandi.

Sementara dari sisi rasio NPF, Suwandi menerangkan NPF perusahaan pembiayaan tetap terkendali dan menunjukkan perbaikan dimana pada Juni 2021 tercatat 3,96%, lebih baik dibandingkan 2020 yang sebesar 4,01%. Kemudian untuk NPF netto masih sangat terkendali dengan angka dibawah 1,5% dan BOPO sebesar 82% di Juni 2021. (TESTI PRISCILLA/B-11)

Berita Terbaru