Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Indramayu Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Ekonom: Pembenahan Rantai Pasok Dapat Antisipasi Tekanan Inflasi

  • Oleh ANTARA
  • 20 November 2021 - 17:20 WIB

BORNEONEWS, Surabaya - Ekonom Senior Sunarsip menilai adanya pembenahan rantai pasok barang bisa mengantisipasi potensi terjadinya tekanan inflasi global usai berakhirnya pandemi COVID-19.

"Kita cukup waspada, tapi tidak perlu takut, karena inflasi bisa temporer, kalau kita bisa mengatasi disrupsi di supply chain dan mengatasi kelangkaan komoditas," kata Sunarsip dalam pelatihan wartawan BI di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu.

Ia mengatakan mulai pulihnya perekonomian di berbagai negara dapat menimbulkan kenaikan permintaan dari masyarakat serta meningkatnya kembali aktivitas industri pengolahan.

Kondisi itu bisa memicu kenaikan harga di berbagai komoditas strategis yang dibutuhkan dunia usaha seperti harga energi, ongkos transportasi, maupun biaya transisi energi fosil ke terbarukan.

Namun, lanjut dia, Indonesia bisa bertahan melalui penyiagaan rantai pasok terutama di bahan pangan agar inflasi bahan makanan yang selama ini cenderung stabil tetap terjaga dengan baik.

Selain itu upaya untuk membenahi sektor pertanian, pariwisata, maupun perumahan, yang dapat memberikan efek berantai di sektor riil mampu memperkuat permintaan domestik.

"Sisi moneter juga bisa memberikan respon dalam menjaga inflasi. Jadi rasanya perlu diwaspadai, tapi jangan terlalu reaktif menyikapi," kata Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence.

Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan saat ini potensi kenaikan permintaan dari masyarakat bisa sedikit mempengaruhi kinerja inflasi nasional.

Namun, menurut dia, secara keseluruhan ketersediaan penawaran atas produksi yang masih memadai belum menyebabkan gejolak inflasi jelang akhir tahun.

BI mencatat inflasi tetap rendah dan mampu mendukung stabilitas perekonomian dengan inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2021 mencapai 0,93 persen dan inflasi tahun ke tahun 1,66 persen (yoy).

Berita Terbaru