Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Gresik Pilkada Serentak 2024

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Bambang Haryo Sesalkan Kajian dan Analisa yang Tak Akurat Terkait Polusi Udara di Jakarta

  • Oleh Muhammad Hamim
  • 19 Agustus 2023 - 07:00 WIB

BORNEONEWS, Jakarta - Pakar Kebijakan Publik Bambang Haryo menilai polusi udara di Jakarta dengan indeks kualitas udara (AQI) mencapai diatas 170, dinilai sangat parah sehingga udara di Ibu Kota Jakarta sangat tidak layak saat ini. 

Menurutnya, sangat disayangkan banyak pihak yang berkomentar tidak berdasarkan kajian dan analisa yang benar dan akurat, bahkan cenderung menyalahkan polusi kendaraan bermotor baik pribadi maupun publik sebagai penyebab polusi udara. Sehingga muncul wacana kebijakan 4 in 1, juga uji emisi gas buang akan lebih diperketat, dan bahkan muncul wacana mendorong ekosistem kendaraan listrik.

Kebijakan tersebut dianggapnya sebuah kepanikan dan sporadis, bahkan muncul dari pimpinan daerah yang mewacanakan perizinan bangunan akan diperketat terutama high rise building. 

Tidak hanya itu, muncul juga instruksi untuk masyarakat menggunakan sepeda sebagai transportasi sehari-hari di tengah udara yang tidak layak. 

"Ada juga kebijakan yang muncul seperti pengguna kendaraan 2.400 cc harus menggunakan pertamax turbo. Padahal pengaruh oktan hanya penyumbang terkecil dari kegagalan emisi gas buang yang sebagian besar kegagalan akibat kondisi perawatan mesin dari kendaraan itu sendiri," kata Bambang Haryo melalui rilis resminya kepada media, Sabtu, 19 Agustus 2023.

BHS yang juga lulusan ITS mengatakan, harusnya dapat dipahami pada rentan waktu Juni hingga Agustus, selalu muncul polusi udara yang sangat tinggi dan melebihi ambang batas di Wilayah pesisir utara Pulau Jawa, Jabotabek, Semarang dan bahkan Surabaya.

"Misalnya di Tahun 2015 terparah, 2019 dan 2023, semuanya mengalami kabut asap akibat kebakaran hutan yang ada di Indonesia khususnya Kalimantan, Sumatera beserta daerah lainnya yang membawa dampak kesehatan yang buruk bagi masyarakat di semua wilayah Indonesia," kata Bambang. 

Harusnya, pihak berwenang mengamati bahwa pada Agustus 2023 ini musim kemarau terjadi di beberapa wilayah. Hal itu menyebabkan ratusan atau bahkan jutaan hektar hutan di Kalimantan, Sumatera bahkan di Jawa Barat yang mengalami kekeringan dan akhirnya terbakar. 

Penyebabnya, bisa terjadi akibat gesekan ranting dan lain lain, dan kebakaran itu terlihat ada titik nyala api berskala kecil, menengah dan hebat. Ini semua bisa kita lihat di data BMKG, titik hotspot kebakaran saat ini sudah mencapai lebih dari 4.000 di Indonesia dan yang paling terparah adalah wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Wilayah Sumatera Selatan serta Lampung. 

Berita Terbaru