Senin, 24 Juli 2017
 

 
 

Kekerasan di Sekolah

Orangtua Murid SD Korban Pemukulan Polisi Mengaku Terpaksa Tandatangani Surat Pernyataan Tidak Menggugat

 
 
Syahruni, orangtua murid SD yang menjadi korban pemukulan oknum anggota Sabhara Polres Kobar.

Syahruni, orangtua murid SD yang menjadi korban pemukulan oknum anggota Sabhara Polres Kobar.

Borneonews / Wahyu Krida

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Syahruni orangtua MA, murid SDN 1 Kumai Hilir, masih tidak terima atas perbuatan polisi anggota Sat Sabhara Polres Kotawaringin Barat (Kobar), Brigadir AAS, yang menganiaya anaknya tersebut.

Kepada wartawan di rumahnya Jalan Panglima Utar Gang Talar RT 2 Kecamatan Kumai Sabtu (15/7/2017) ia mengatakan sebenarnya dirinya ingin melanjutkan kasus ini agar pelaku bisa ditindak secara hukum.

Namun pasca digelarnya mediasi antara pelaku dan keluarga korban Jumat 14 Juli 2017 sore, niat tersebut diurungkannya.

“Karena dalam pertemuan tersebut kami diminta menandatangani surat perjanjian yang intinya kami bersedia tidak menggugat,” ujar Syahruni.

Menurutnya dalam surat perjanjian itu disebutkan kasus penganiayaan ini akan diselesaikan secara kekeluargaan dan pihak keluarga tidak akan melaporkan pelaku ke Polres Kobar.

“Dia (Brigadir AAS) juga mengganti rugi untuk pengobatan anak saya Rp700 ribu. Terpaksa saya tanda tangani karena kami takut. Bila menuruti hati sebenarnya saya tidak terima," ujarnya. (WAHYU KRIDA/B-11)

BERITA POPULER

Silaturahim

Facebook

 
UCAPAN SELAMAT LAINNYA
To Top