Analis: Tarif Impor Biodiesel di UE Tak Berdampak Signifikan 

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 19 Agustus 2019 - 13:30 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Penerapan tarif terhadap impor biodiesel Indonesia sebesar 8% hingga 18% oleh Uni Eropa (UE) mulai Rabu (14/8/2019) tidak terlalu berpengaruh bagi emiten perkebunan.

"Tarif biodiesel yang dikenakan oleh Uni Eropa tidak berpengaruh signifikan. Isu ini sudah mulai terdengar sejak Juli lalu dan penerapannya juga dilakukan secara bertahap," kata analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Chris Apriliony, dalam risetnya.

Menurut Chris, dengan adanya isu yang diembuskan kembali tidak berpengaruh secara signifikan dibandingkan dengan sentimen kenaikan ekspor CPO ke China baru-baru ini. 

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor CPO dari Indonesia ke China pada paruh pertama tahun ini naik 39% year on year menjadi 2,54 juta ton. 

Kenaikan permintaan CPO dari China, ungkap Chris, merupakan salah datu dampak perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS). Akibat perang dagang, China memutuskan mengurangi pembelian kedelai secara signifikan dan menggantikan beberapa kebutuhan dengan minyak sawit.

"Kami melihat peluang lanjutan kenaikan saham-saham CPO karena perang dagang membawa optimisme bahwa harga CPO dapat naik kembali. Hal ini terlihat dari pergerakan saham-saham CPO yang meningkat cukup signifikan," papar dia.

Chris merekomendasikan investor bisa mulai beli saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dengan target harga hingga akhir tahun Rp 1.400 per saham dan membeli saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan target harga Rp 13.500 dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dengan target harga Rp 400. 

"Tiga emiten ini adalah pemimpin pasar dalam industri CPO dan masih memiliki fundamental yang bagus," ujar Chris. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru