Sistem Informasi Pemetaan & Manajemen Pemenangan Pilkada

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Menyulap Singkong Menjadi Bisnis Berdaya Saing Global

  • Oleh ANTARA
  • 17 September 2023 - 01:00 WIB

BORNEONEWS, Jakarta - Banjarnegara, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang mungkin sebelumnya hanya terkenal sebagai salah satu sentra pertanian di Jawa Tengah, kini menjadi sorotan dunia berkat seorang pemuda berbakat, Riza Azyumarridha Azra.

Riza sukses menciptakan perubahan besar dalam dunia pertanian singkong dan memperkenalkan produk olahan singkong, tepung mocaf, hingga ke pasar internasional.

Perubahan besar dalam hidupnya dimulai ketika ia terlibat dalam Sekolah Inspirasi Pedalaman Banjarnegara. Di saat itulah, ia menyadari masalah besar yang dihadapi oleh petani singkong di daerah tersebut. Harga singkong yang hanya sekitar Rp200 per kilogram membuat banyak petani mengalami kerugian besar, bahkan hingga mengabaikan panennya sendiri.

Kisah pilu petani singkong yang putus asa ini menggetarkan hati Riza. Ia mulai mencari solusi bersama aktivis sosial lainnya dengan berkonsultasi kepada para ahli singkong. Hasilnya, muncullah ide untuk mengolah singkong menjadi tepung mocaf (Modified Cassava Flour), yang memiliki karakteristik mirip dengan tepung terigu.

Riza tidak tinggal diam setelah menemukan solusi ini, Ia memulai perjalanan belajar tentang produksi tepung mocaf dari nol dan kemudian berbagi pengetahuan ini kepada petani lainnya. Mereka dilatih hingga dapat memproduksi mocaf secara mandiri dan mendapatkan harga jual yang lebih tinggi daripada singkong segar.

Indonesia, yang merupakan penghasil singkong terbesar kedua di dunia setelah Brasil, seharusnya tidak hanya menjadi importir besar tepung terigu. Ironisnya, bahan dasar tepung terigu harus diimpor, sementara negeri ini memiliki potensi besar dalam budidaya singkong. Dengan tekad bulatnya, Riza bersama rekan-rekannya mendirikan Rumah Mocaf Indonesia.

Di dalam Rumah Mocaf, mereka membentuk tiga kelompok utama: petani singkong, ibu-ibu perajin mocaf, dan generasi muda. Petani singkong diberdayakan mulai dari pemilihan lahan hingga proses pemupukan untuk menghasilkan singkong berkualitas. Ibu-ibu dipekerjakan sebagai tenaga lepas yang mahir mengolah singkong menjadi tepung mocaf, sedangkan generasi muda bertugas dalam pengemasan produk dan pemasaran.

Riza dan Rumah Mocaf tidak hanya berhenti di situ, mereka mendirikan harga pokok produksi bersama-sama dengan ketiga kelompok ini. Dalam beberapa tahun, harga singkong yang sebelumnya hanya Rp200 per kilogram naik menjadi Rp1.500 per kilogram setelah diolah menjadi mocaf. Langkah ini memastikan bahwa semua pihak saling mendukung dan adil dalam berbisnis.

Metode yang diterapkan oleh Rumah Mocaf ini bukan hanya berhasil mengakhiri dominasi tengkulak yang merugikan petani, tetapi juga memberikan pekerjaan kepada ibu-ibu di komunitas. Selain itu, generasi muda yang terlibat dalam proyek ini mendorong modernisasi dalam pertanian dan pengolahan produk.

Perjalanan panjang ini tidaklah mudah. Produk olahan singkong mereka awalnya kesulitan diterima di pasar lokal, terutama karena tujuannya adalah untuk pemberdayaan masyarakat.

Berita Terbaru