Sungai Arut Saksi Sejarah Kabupaten Kotawaringin Barat

  • Oleh Fahruddin Fitriya
  • 06 Oktober 2016 - 16:10 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sungai Arut menjadi saksi sejarah bagaimana peradaban Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) tercipta. Tidak bisa disangkal pula, Sungai Arut pernah menjadi penggerak sektor ekonomi, sosial, budaya dan sektor lain di Bumi Marunting Batu Aji (julukan Kobar).

Pada masa keemasanya, kehidupan masyarakat Kabupaten Kobar tidak bisa dipisahkan dengan peran Sungai Arut, mulai dari jalur transportasi, ekonomi, sosial, budaya hingga berbagai aktivitas rumah tangga warga setempat.

"Sebelum tahun 2000-an, masyarakat Kobar menggantungkan hidup dari Sungai Arut. Mulai dari jalur transportasi, mencari ikan, MCK hingga arena permainan anak-anak," kenang seorang tetua di Kelurahan Mendawai, Darmansyah. Rabu (6/10/2016).

Lanjut Darmansyah, air Sungai Arut tidak sekeruh sekarang. Bahkan karena jernihnya sungai terbesar di Kobar itu, bisa tampak jelas sejumlah ikan sungai berenang lalu lalang di dasar sungai. Hampir setiap hari dijumpai anak-anak bermain di sungai, warga tidak segan memanfaatkan air sungai untuk minum dan berbagai keperluan rumah tangga.

"Kalau sekarang, jangankan untuk air minum, untuk mandi saja bisa membuat kulit gatal. Cari ikan juga susah," cetusnya.

Dia menceritakan, keruhnya Sungai Arut terjadi sejak medio 1990-an. Pada tahun yang sama pula, penambangan emas secara ilegal mulai marak. Puncaknya, terjadi pada sekitar tahun 2000. Parahnya pencemaran sungai, mengubah air yang sebening kaca menjadi serupa susu putih.

"Tinggal nambah gula saja, jadi deh susu manis," kelakar Darmansyah saat dibincangi Borneonews di Kediamanya.

Terlepas dari pencemaran, pendangkalan di seluruh Daerah Aliran Sungai (DAS) Arut menjadikan pamor transportasi air di sungai itu mulai surut. Padahal, sejak tahun 1980-an Sungai Arut memiliki arti penting di sektor transportasi.

"Dulu setiap hari banyak kapal-kapal besar berkapasitas ratusan ton melintas di Sungai Arut, sekarang mana ada. Paling hanya kelotok atau speedboat. Itu saja bisa dihitung dengan jari," beber pria yang pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Kobar selama empat periode berturut-turut itu.

Selain mengalami pendangkalan, DAS Arut juga mengalami penyurutan. Dia mensinyalir, berkurangnya aliran sungai arut terjadi karena banyaknya sodetan pada sungai. Cabang sungai buatan itu sering digunakan untuk kepentingan pengairan kebun atau pertanian.

"Kalau banjir, airnya bisa meluap hingga Jalan Antasari. Terakhir terjadi pada 2005. Setelah itu tidak pernah terjadi lagi," ujar Darmansyah.

Kembali mengenang masa lalu, pria yang masa kanak-kanak dihabiskan di bantaran Sungai Arut itu menuturkan, sebagian besar penduduk Kobar, khususnya warga Kelurahan Mendawai, Raja dan Baru, tinggal di sekitar bantaran Sungai Arut.

Meski sudah berusia 63, ia masih mengingat jelas banyak hal menarik di sepanjang Sungai Arut, terutama sekitar tahun 1980-an. Kala itu, sore hari adalah waktu yang sangat ditunggu anak-anak bantaran untuk mandi di sungai.

Mereka menangkap ikan dan menciduk anak udang dengan menggunakan tudung saji. Sesekali saat itu masih terlihat beberapa jenis ikan, ikan haruan, patin, pipih, biawan, dan pepuyu berseliweran. 

"Termasuk haliling yang biasanya nempel disekitar batang (rumah apung) Sungai Arut. Ikan-ikan itu kami bawa pulang untuk dijadikan lauk makan malam," tutur Darmansyah mengenang masa kecilnya di Sungai Arut.

Jika ada kapal besar bersandar di situ, anak-anak akan menjadikanya sarana untuk terjun bebas atau bersalto dari atas kapal. Keberhasilan bersalto akan menjadi gengsi tersendiri baginya kala itu.

"Kalau ada yang gagal, siap-siap dapat cibiran atau istilah sekarang 'bully'. Pokoknya seru. Jaman dulu bahagia itu gratis, asal 'nyemplung' sungai ramai-ramai sudah bahagia," kata Darmansyah sambil senyum mengenang masa kanak-kanaknya.

Lalu bagaimana dengan kondisi Sungai Arut saat ini? "Memprihatinkan," ucapnya singkat lalu menyeruput segelas kopi yang sejak awal perbincangan sudah tersedia di atas mejanya.

Melanjutkan perbincangan, Ia memandang sungai penuh sejarah itu, sedih dan miris. Air yang dulunya sebening kristal berubah keruh kecoklat-coklatan, mulai surut, DAS-nya pun mengalami pendangkalan, bahkan pencemaran akibat penambangan ilegal menjadikan Sungai Arut airnya tidak lagi layak untuk dikonsumsi.

"Meski sudah dimasak, mana ada yang berani meminum airnya," ungkap Darmansyah.

Penangkapan ikan yang tidak bijak memperparah kondisi Sungai Arut. Banyak yang menggunakan racun dan setrum. Satu orang mengunakannya, kata Darmansyah, yang lainya ikut-ikutan. Belum lagi kebiasaan buruk membuag sampah ke sungai.

Dia mengaku masih hobi menangkap ikan di Sungai Arut. Namun, sekalipun dan berapapun hasilnya pria paruh baya itu tidak pernah mau menggunakan racun dan setrum. Akibat maraknya penggunaan racun dan setrum, hasil tangkapannya menurun drastis.

"Tidak ada kata terlambat untuk mengembalikan kondisi sungai, kita semua wajib sadar, pemerintah juga harus tanggap," ucap Darmansyah sebelum mengakhiri obrolan sore itu. (FAHRUDDIN FITRIYA/m))

Berita Terbaru