Kenaikan Permintaan Ekspor CPO tak Pengaruhi Biodiesel

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 15 Maret 2017 - 11:46 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyatakan peningkatan permintaan produk turunan minyak sawit mentah (CPO) di pasar global tidak terlalu berpengaruh terhadap biodiesel.

"Terakhir kali produsen biodiesel mengekspor ke luar negeri dalam jumlah besar pada 2014, yakni 1,8 juta KL ke Uni Eropa. Namun, penerapan bea masuk anti dumping (BMAD) di Uni Eropa untuk produk biodiesel membuat bahan bakar ramah lingkungan ini tidak lagi bisa bersaing di pasar dan akhirnya ekspor terhenti," kata Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan, kepada pers di Jakarta, Rabu (15/3/2017).

Produk biodiesel, menurut Paulus, sulit untuk masuk ke pasar ekspor dalam jumlah besar karena saat ini harga minyak dunia masih rendah sehingga bahan bakar fosil jauh lebih ekonomis ketimbang biodiesel.

"Ekspor biodiesel masih tetap berjalan tiap tahun ke berbagai negara, seperti India, Tiongkok, Pakistan, dan Australia dengan volume ratusan KL," papar dia.

Paulus menambahkan, meski berasal dari CPO, tapi regulasi ekspor biodiesel lebih rumit ketimbang produk CPO olahan lainnya. 

"Apabila produk CPO olahan lain berurusan dengan otoritas pertanian di negara tujuan ekspor, biodiesel juga harus berurusan dengan otoritas energi dari negara setempat," ujar Paulus. (NEDELYA/RAMADHANI/m)

Berita Terbaru