Analis: Emiten sawit Masih Dipayungi Sentimen Positif

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 13 Maret 2019 - 16:40 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tahun ini saham-saham emiten perkebunan kelapa sawit diperkirakan masih akan dipengaruhi sejumlah sentimen positif, sehingga dapat menjaga kinerja.

"Peluang penguatan harga minyak kelapa sawit pada kuartal pertama tahun ini seiring dengan penurunan bea masuk ke India akan menjadi salah satu sentimen positif," kata analis Samuel Sekuritas, Sharlita Malik, dalam risetnya.

Per Januari 2019, Pemerintah India memutuskan menurunkan bea masuk bagi minyak kelapa sawit mentah (CPO) dari negara-negara Asean, termasuk Indonesia, sebesar 400 bps menjadi 40% dan Refined Palm Oil sebesar 900 bps menjadi 50%, terkecuali bagi Malaysia yang hanya diturunkan 45%.

Penurunan bea masuk ini tentu berpeluang membuat harga minyak kelapa sawit menjadi lebih murah dan meningkatkan permintaan India yang selama ini menjadi importir terbesar minyak kelapa sawit dunia.

Sharlita menilai, implementasi program Biodiesel B20 berjalan dengan baik. Hal tersebut bisa dilihat dari penyerapan Biodiesel B20 yang mencapai 6 juta kilo liter atau meningkat 76% yoy dan rencana pemerintah menambah dua floating storage di Balikpapan.

"Kami estimasi konsumsi Biodiesel B20 mencapai 6,2 juta kiloliter atau naik 3% yoy. Potensi ini belum memfaktorkan rencana penggunaan green gasoline, green diesel, dan avtur di Indonesia," papar dia.

Kemudian melemahnya pasokan berpotensi berlanjut hingga 2020 karena pengaruh El Nino yang berpeluang terjadi sekitar 75% hingga 80% di paruh kedua tahun ini. Melemahnya pasokan tentu akan mengerek harga minyak kelapa sawit. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru