Lomba Dayung Dinilai Lestarikan Transportasi Tradisionaal

  • Oleh Muhammad Hamim
  • 13 Maret 2019 - 18:56 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Guna melestarikan alat transportasi tradisional yang sering digunakan masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) pada zaman dulu, terutama yang tinggal di tepian sungai, panitia Festival Budaya Habaring Hurung menggelar lomba dayung di Sungai Mentaya, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). 

"Dayung merupakan alat transportasi orangtua kita dulu, makanya harus dilestarikan. Dan kami menggelar lombanya di Sungai Mentaya," ujar Cristopel, panitia pelaksana lomba dayung Festival Budaya Habaring Hurung, Rabu (13/3/2019). 

Pada lomba tersebut, diikuti oleh tim putra dan putri. Dengan jumlah peserta 26 tim laki-laki, dan 10 tim perempuan. Satu tim terdiri dari delapan orang, enam pendayung, seorang penabuh, dan seorang juru mudi. 

Kerjasama tim merupakan kunci dari perlombaan ini. Karena kalau tidak serasi, maka dayung akan lamban bahkan menguras tenaga. Sehingga sangat sulit meraih kemenangan. 

"Perlombaan ini kami lakukan dengan sistem gugur. Karena dua tim akan bersaing untuk bisa masuk ke babak berikutnya," kata Cristopel. 

Sementara, jarak yang harus ditempuh dalam perlombaan tersebut mencapai 750 meter. Sehingga kekuatan fisik menjadi faktor utama agar menjadi yang terbaik nantinya. 

Sedangkan peserta sendiri hampir seluruh kecamatan yang ads di Kotim ini. Bahkan Kecamatan Antang Kalang dan Kuala Kuayan yang cukup jauh juga ikut dalam lomba ini. 

"Kami sangat senang, karena tahun ini peserta lebih banyak. Dan penontonpun sangat antusias. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih banyak lagi," ungkap Cristopel. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)

Berita Terbaru