Menatap Prospek Bisnis Astra Agro Lestari 2019

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 30 Juni 2019 - 12:10 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Astra Agro Lestari Tbk atai AALI sejauh ini mengelola 285.024 hektar kebun sawit yang tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. 

Dari luasan tersebut, perusahaan dengan kode emiten AALI ini mengelola 218,409 hektar kebun inti dan 66.615 hektar kebun plasma. Selain mengelola inti dan plasma, Astra Agro juga mengelola kebun kemitraan. 

Pada tahun lalu, Astra Agro memproduksi TBS sebesar 5,7 juta ton atau naik sebesar 10,2% dibandingkan 2017. Produksi CPO Astra Agro tahun lalu meningkat sebesar 18,5% dibandingkan 2017.

Tercatat, Astra Agro memproduksi CPO sebesar 1,9 juta ton pada tahun lalu, sedangkan pada 2017 Astra Agro memproduksi 1,6 juta ton. Produksi kernel juga mengalami peningkatan, yakni naik sebesar 18% dibandingkan 2017. 

Pada tahun lalu, produksi kernel sebesar 420.900 ton, sedangkan pada tahun sebelumnya produksi kernel sebesar 356.600 ton. 

Pada sektor hilir, Astra Agro memproduksi 327.600 ton Olein pada 2018 atau meningkat 16,1% dari 2017 yang sebesar 282.200 ton. Palm Kernel Oil mengalami penurunan sebesar 38,2% dari 2017. 

Selain itu, trading CPO juga memberikan prestasi yang menggembirakan dengan naik sekitar empat kali lipat sekitar 83.000 ton pada 2017 menjadi 375.000 ton pada 2018. 

Bisnis peternakan sapi yang juga menunjukkan hasil yang memuaskan, yaitu dari 1.300 ekor pada 2017 naik menjadi 10.061 ekor pada 2018.

Selain operasional, Astra Agro juga melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan CSR. Menguatkan diri sebagai perusahaan yang sejahtera bersama bangsa (prosper with the nation), Astra Agro mengembangkan empat Pilar CSR, yakni ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Sedangkan analis Panin Sekuritas, William Hartanto, mengatakan kinerja AALI bakal cemerlang pada 2019. 

"Emiten fokus mengembangkan pabrik baru agar memberikan performance maksimal. Orientasinya jangka panjang, tapi hasilnya tidak akan mengecewakan. Selain itu, dampak pembatasan ekspor, tidak terlalu berefek karena dari dalam negeri ada B20 untuk menyerap produksi dalam negeri," katanya dalam risetnya.

Dari sisi saham, William merekomendasikan beli untuk saham AALI. 

"Support ada di Rp13.500 per saham, target untuk jangka pendek Rp14.000 hingga Rp14.500 per saham. Lalu untuk jangka panjang di level Rp16.000 per saham," papar William. (NEDELYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru