Mandatori Biodiesel di RI dan Malaysia Jadi Penyelamat Harga CPO 

  • Oleh Nedelya Ramadhani
  • 07 Agustus 2019 - 08:30 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kian gencarnya program biodiesel di Indonesia dan Malaysia, tak hanya bagus untuk lingkungan, tapi juga menjadi resep ampuh untuk mengikis stok minyak sawit yang menumpuk di kedua negara itu. 

Kepala riset CIMB-CGS, Ivy Ng, memandang program biodiesel bakal menjadi penyelamat harga minyak sawit mentah (CPO) yang kini bergerak tipis di kisaran RM2.000 per ton. 

Untuk itu, kata, harga CPO diperkirakan bergerak menguat dalam waktu dekat hingga memasuki akhir tahun. 

“Harga CPO sepertinya akan bergerak rata-rata di kisaran RM2.100 pada 2019, dari kisaran 2018 di angka RM2.233 per ton dan RM2.300 pada 2020,” ujar Ng. 

Adapun harga acuan CPO berjangka untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives ditutup di level RM2.061 per ton akhir pekan lalu. 

Mandatori program biodiesel di Indonesia dan Malaysia, ungkap Ng, diperkirakan mampu mengurangi dampak kebijakan diskriminatif Uni Eropa, yang mengurangi pemakaian CPO untuk pembuatan biofuel. 

Dalam kebijakan terbaru UE, pemakaian CPO untuk biofuel di Benua Biru akan dibatasi pada tahun ini hingga 2023, dan setelah itu akan dihapuskan pada 2030.

Sekitar 2,45 juta ton biodiesel berbasis CPO akan terdampak kebijakan ini, atau 33% dari impor CPO tahunan UE. (NEDELAYA RAMADHANI/m)

Berita Terbaru