Stunting di Kotawaringin Timur Harus Jadi Perhatian Bersama

  • Oleh Muhammad Hamim
  • 19 Agustus 2019 - 13:12 WIB

BORNEONEWS, Sampit - Saat ini 10 desa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi locus penanggulangan stunting. Hal itu harus menjadi perhatian bersama, bukan hanya pemerintah namun juga masyarakat. 

"Dari 160 kabupaten di Indonesia, Kotim adalah salah satu kabupaten yang menjadi lokus penanganan stunting. Sehingga hal ini harus menjadi perhatian kita bersama. Demi masa depan anak-anak kita nantinya," ujar Bupati Kotim Supian Hadi, Senin, 19 Agustus 2019. 

Ia pun mengajak seluruh posyandu dan puskesmas lebih hiat lagi menanggulangi stunting. Karena mereka yang memiliki data balita yang berfotensi terkena stunting. 

Stunting merupakan gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Anak stunting juga cenderung lebih kerdil dibanding anak seusianya. 

Maka penanganan stunting di Kotim harus dilakukan dengan cara terintegrasi yang melibatkan semua stekholder. Termasuk kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. 

"Ini adalah hal yang harus diselesaikan dan ditangani oleh semua stekholder. Karena ini menyangkut hidup anak-anak di daerah ini," kata Supian Hadi.

Di Kotim sendiri ada 10 desa yang menjadi lokus stunting yakni Tumbang Saluang di Kecamatan Bukit Santuai, Rantau Suang di Kecamatan Telaga Antang, Tumbang Tawan di Kecamatan Bukit Santuai, Babaung di Kecamatan Pulau Hanaut, Bukit Harapan di Kecamatan Parenggean, Bawan di Kecamatan Mentaya Hulu, Tumbang Kaminting fi Kecamatan Bukit Santuai, dan Ujung Pandaran, Habdil Sohor, serta Lampuyang di Kecamatan Teluk Sampit. (MUHAMMAD HAMIM/B-3)

Berita Terbaru