Aplikasi Pilbup (Pemilihan Bupati) Kab. Bengkulu Utara Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Tips Memakai Ban Mobil Berbeda Merek Agar Tak Berakibat Fatal

  • Oleh Teras.id
  • 28 Februari 2020 - 10:30 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Jika mobil Anda baru saja keluar dari dealer (mobil baru) tentu tips ini tidak akan bermanfaat. Sebab hampir semua kendaraan gres sudah dibekali empat buah ban mobil semerek, setipe, dan tentunya seukuran.

Lain halnya ketika usia mobil Anda sudah memasuki umur 2-3 tahun dan seterusnya. Di mana Anda diharuskan untuk mengganti ban demi menjaga kinerja mobil tetap prima.

Mau tidak mau, Anda harus mengganti dengan yang baru. Tapi, bagaimana jika saat itu anggaran tidak ada untuk membeli satu set atau empat sekaligus. Nah, pilihannya lebih baik membeli 2 unit dan dipasangkan pada satu poros, sekalipun berbeda merek dengan ban di poros lainnya atau ban sebelumnya.

"Enggak masalah yang penting satu poros dan harus sama merek juga sama kembang. Karena walaupun satu merek tapi beda kembang di satu poros itu tidak baik juga,"ujar Manager Trainer PT Sumi Rubber Indonesia (Dunlop), Bambang Hermanu Adi saat berbincang santai dengan sejumlah awak media di Cikarang, akhir pekan lalu.

Bambang juga menyarankan agar penggunaan ban baru sebaiknya diletakkan di bagian belakang ketimbang depan. Menurut dia, masih banyak orang Indonesia yang salah kaprah dengan berpikir bahwa ban baru ditaruh di depan untuk menghindari kecelakaan fatal.

"Mereka pikir kalau ban depan aus akan mudah meledak dan terjadi kecelakaan fatal. Tapi enggak, itu salah. Ban belakang yang meledak juga fatal,"ujarnya.

Bahkan menurut dia, ban baru idealnya lebih baik ditaruh di belakang dengan satu poros. Pada mobil dengan penggerak roda depan maupun mobil berpenggerak roda belakang.

Bambang menjelaskan bahwa dalam dunia mengemudi ada istilah understeer dan oversteer. Kondisi di mana ban kehilangan traksi atau sederhananya tidak bisa menapak dengan baik saat menikung.

Nah jika kondisinya ban baru ada di depan kata dia, otomatis daya cengkramnya lebih bagus dari ban di belakang. Kondisi itu bisa membuat ban belakang melintir karena daya cengkram kurang maksimal dibandingkan ban depan.

"Kalau sudah begitu, jadinya oversteer. Kalau sudah oversteer kita harus memutar setir (rumit). Itu gerakannya jauh lebih susah dari pada understeer,"ujarnya.

Sebaliknya, kata Bambang pada kondisi ban baru berada di belakang, maka daya cengkraman ban depan akan berkurang. Dengan kata lain, ban depan yang lebih aus akan kehilangan traksi.

"Kalau ban depan yang kehilangan cengkraman, itu memicu understeer. Kalau understeer kita bisa putar setirnya lebih gampang. Intinya, lebih baik mengalami understeer dari pada oversteer,"ujar pria yang pernah menjadi saksi ahli dalam persidangan kecelakaan Saiful Jamil dan Virginia Anggraeni pada 2012 silam ini.

(TERAS.ID)

Berita Terbaru