Aplikasi Pilwali (Pemilihan Walikota) Kota Sibolga Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

IHSG Pekan Ini Diprediksi Melemah Lagi

  • Oleh Teras.id
  • 28 September 2020 - 05:00 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal bergerak menguat di awal pekan, namun cenderung melemah di tengah sampai akhir pekan. Hal tersebut dipengaruhi berita positif di dalam dan luar negeri.

"IHSG bergerak dengan level support di level 4,820 sampai 4,754 dan resistance di level 4,978 sampai 5,187 dengan kecenderungan melemah dalam sepekan kedepan," ujar Hans dalam keterangan tertulis, Ahad, 27 September 2020.

Isu pertama datang dari pasar keuangan dunia yang membuat sentimen negatif dari perkembangan paket stimulus fiskal untuk mengatasi dampak pandemi Covid-19 di Amerika Serikat.

Dikabarkan Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat AS sedang menyiapkan rencana paket stimulus virus corona senilai US$ 2,2 triliun. Para pelaku pasar berharap paket ini bisa divoting pada pekan depan, lantaran dinilai sangat penting untuk membantu Amerika Serikat keluar dari resesi.

Di tengah peningkatan kasus Covid-19 dan rencana penguncian kembali, tutur Hans, membuat pemulihan ekonomi akan terganggu. Dengan demikian, stimulus fiskal sangat di butuhkan.

"Pejabat Federal Reserve pekan lalu berbicara tentang pentingnya lebih banyak stimulus fiskal karena kebijakan moneter terbatas efektivitasnya dalam memulihkan perekonomian. Pernyataan ini menurunkan kredibilitas the Fed sendiri tetapi mendorong pemerintah dan parlemen segera meloloskan stimulus fiskal baru untuk mengatasi dampak covid 19," ujar dia.

Isu tersebut juga berkaitan dengan data ekonomi Amerika Serikat cenderung bervariasi tetapi menunjukkan tanda-tanda perlambatan pemulihan.

Selanjutnya, Hans mengatakan pasar modal juga menghadapi ketidakpastian politik Amerika Serikat menjelang pemilu di bulan November. Dikabarkan Presiden Donald Trump menolak berkomitmen untuk transfer kekuasaan secara damai jika dia kalah dalam Pilpres. Hal ini membuat sangat mungkin hasil pemilu disengketakan.

"Hal ini memang di bantah Partai Republik tentang penolakan Presiden Donald Trump untuk berkomitmen pada transfer kekuasaan secara damai bila Trump kalah dalam pemilu November. Hal ini telah membuat indeks dolar mengalami penguatan dan memperlemah nilai tukar Rupiah," ujar dia.

Pernyataan Chairman The Fed Chicago Charles Evans mengatakan pelonggaran kuantitatif lebih lanjut mungkin tidak memberikan dorongan tambahan untuk ekonomi AS serta isyarat bahwa The Fed bisa saja menaikkan suku bunga sebelum inflasi mulai mencapai rata-rata 2 persen membuat arus dana balik ke Amerika Serikat. Kondisi itu membuat dolar cenderung naik dan rupiah cenderung melemah.

Berita Terbaru