Aplikasi Pilwali (Pemilihan Walikota) Kota Metro Pilkada Serentak 2020

IT Konsultan Terbaik Indonesia

Duka Warga Jawa Barat di Kobar Pasca Insiden Tertimbunnya Penambang Emas

  • Oleh Wahyu Krida
  • 22 November 2020 - 20:10 WIB

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Musibah yang menimpa 10 penambang emas di Daerah Sungai Seribu, RT 6, Kelurahan Pangkut, Kecamatan Arut Utara (Aruta), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menimbulkan duka tersendiri bagi komunitas warga Jawa Barat (Jabar) di daerah ini.

Salah satu tokoh masyarakat Jabar yang Pembina Paguyuban Warga Jabar Banten Lembur Kuring Cabang Kobar, Dandeni Hardiana, Minggu, 22 November 2020 turut berbelasungkawa atas musibah itu.

"Awalnya saya juga mendapat informasi bahwa ada musibah yang menimpa 10 penambang di Kecamatan Aruta. Namun setelah mencermati data yang ada, ternyata mereka berasal dari Kecamatan Selopa, Kabupaten Tasikmalaya, Jabar. Saya segera berkoordinasi dengan pengurus paguyuban," jelas Dandeni Herdiana yang juga Kepala Kejaksaan Negeri Kobar itu.

Menurut Dandeni Herdiana, dari hasil koordinasi antar anggota paguyuban, diputuskan dalam musibah tersebut mereka berpartisipasi membantu dari sisi sosial.

"Karena untuk masalah evakuasi di lapangan, tentunya ada instansi yang berkompeten. Sementara paguyuban langsung bergerak menghubungi keluarga korban di kampung halaman, mengurus masalah pemakaman dan memberikan bantuan bagi keluarga yang ditinggalkan," jelas Dandeni Herdiana.

Dandeni Herdiana juga mengimbau, bila ada waga Jabar atau Banten yang berdomisili di Kabupaten Kobar agar memberitahukan keberadaannya dan bisa memperkenalkan diri pada paguyuban.

"Sehingga dengan saling mengenal maka bila ada musibah. Kami bisa saling tolong sebagai warga sekampung halaman. Karena terus terang keberadaan para pekerja tambang asal Tasikmalaya tersebut, kami ketahui saat ada musibah ini saja," jelas Dandeni Herdiana.

Dia menambahkan, dengan saling mengenal antar warga Jabar dan Banten, tentunya paguyuban bisa saling menjaga dan mengingatkan mengenai tingkah laku dan pembawaan diri saat bergaul di Bumi Marunting Batu Aji.

"Sesuai falsafah paguyuban yaitu silih asah yang berarti saling memperhatikan, silih asih atau saling mengasihi, dan silih asuh atau saling mengayomi. Sehingga keberadaan warga Jabar dan Banten tetap selaras dengan kehidupan masyarakat Kabupaten Kobar dan Provinsi Kalteng," jelas Dandeni Herdiana. (WAHYU KRIDA/B-11)

Berita Terbaru